Menjadi Manusia Yang Baik
0
komentar
Suatu
kenyataan yang tidak dapat kita bantah, kita di dunia ini tidak dapat hidup
sendirian, tidak dapat hidup sebatang kara. Kita semua ini bukanlah malaikat,
yang dapat hidup dengan tidak makan, minum, dan lain sebagainya. Kita adalah
manusia, kita anak adam yang pasti mempunyai banyak keperluan hidup, baik bersifat
rohani maupun bersifat jasmani, baik yang primer maupun yang sekunder.
Kita
semua tahu bahwa hampir semua kebutuhan hidup kita ini sampai kepada kepada
kebutuhan hidup kita yang sekecil-kecilnya sekalipun tidak mungkin kita dapat
cukupi hanya dengan usaha tangan kita sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita
makan misalnya, setiap sesuap nasi yang kita makan, kita memerlukan bantua
puluhan atau bahkan ratusan dan ribuan orang lain yang bekerja mewujudkan
setiap sesuap nasi kita itu, sejak mulai biji padi dijatuhkan ditanah, sampai
akhirnya berwujud nasi yang siap untuk dimakan. Misalnya lagi, kita mencari
ilmu. Setiap bagian ilmu yang kita pelajari pastilah sebelum itu banyak sekali
orang lain yang telah bekerja bersusah payah sehingga ilmu itu dapat dan mudah
kita pelajari. Kita tinggal membaca buku atau mendengarkannya, dan kita tidak
melakukan penyelidikan mulai dari nol ketika ilmu itu belum ditemukan, dan lain
sebagainya.
Jadi,
kita semua pasti memerlukan bantuan orang lain. Dan hajat kita akan bantuan
orang lain, bergaul dengan orang lain. Dengan kata lain, kita semua ini harus
hidup bermasyarakat. Itulah sebabnya saudara- saudara, para psikolog berkata
bahwa; “manusia adalah makhluk sosial”.
Agama
Islam membawa misi sosial, sebab ia diturunkan memang untuk memperbaiki
masyarakat umat manusia. Kartena itu sesuai dengan misi Islam ialah misi sosial
ini, Islam banyak mempunyai ajaran dibidang sosial kemasyarakatan yang membawa
kita kaum muslimin menjadi manusia sosial yang baik, yang mampu berhubungan dan
bergaul dengan orang lain secara baik.
Ajaran-ajaran
Islam yang demikian ini, dapat kita temukan misalnya pada perintah zakat bagi yang mampu, anjuran
berqurban binatang pada ‘idul qurban, anjuran bersedekah, anjuran menyebarkan
salam Islam kepada orang lain baik yang kita kenal maupun yang tidak, dan
kewajiban naik haji bagi yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Selain itu yang
diutamakan oleh Allah dengan memberikan pahala yang lebih besar dari pada
amalan-amalan yang kita kerjakan secara individu, misalnya sholat lima waktu
yang kita kerjakan dengan berjamah. Dengan ajaran sosial dalam Islam yang
ddemikian ini, kita dididik oleh agam Islam supaya dapat menjadi “manusia
sosial yang baik” yang pandai membawa diri di dalam hidup bermasyarakat.
Seluruh manusia itu adalah umat yang satu. Dalam hidup
bermasyarakat, kita bergaul dengan banyak pihak. Dan dengan semua pihak ini,
tidak peduli suku apa, pangkatnya apa, agamanya apa, dan lain sebagainya. Kita
diminta oleh islam untuk bergaul denngan baik. Terutam terhadap pihak-pihak
berikut ini, harus kita berikan prioritas untuk kita pergauli dengan baik
yaitu:
1.
Kedua
orang tua, yaitu Ibu dan Bapak kita
2.
Kerabat
dekat dan jauh kita
3.
Anak-anak
yatim
4.
Orang-orang
miskin
5.
Tetangga
yang dekat maupun yang jauh dengan kita, baik dilihat dari segi tempat,
hubungan keluarga baik muslim atau non muslim
6.
Teman
sejawat kita
7.
Ibnu
sabil yaitu, para musafir yang kehabisan bekal yang kepergiannya bukan untuk
maksiat
8.
Hamba
sahaya
Semua
itu difirmankan oleh Allah dalam surat Annisa’ ayat 36 yang
Artinya. “Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu
sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong dan membangga-banggakan diri”.
Bergaul yang
baik dengan sesama manusia dapat dibagi menjadi 3 tingkat, yaitu:
a.
Tingkat pertama, ialah tingkat yang paling rendah yaitu kita bergaul
dengan orang lain hanya sekedar kita tidak membuat susah kepada orang lain dan
tidak mengganggu mereka. Misalnya, pada waktu siang hari selagi orang lain
tengah istirahat tidur siang atau tengah asyik belajar, kita tidak membunyikan
TV atau radio keras-keras. Contoh yang lain dengan tidak membuang sampah
sembarangan sehingga mengganggu tetangga dan lain sebagainya. Jadi menurut cara
bergaul tingkat rendah ini, kita bergaul secara positif sebab kita tidak
berbuat ini dan itu dapat menyusahkan orang lain. Cara bergaul tingkat rendah
inilah yang oleh Rasulullah disabdakan; yang artimya: “barang siapa yang
beriman kepada Allah dan Hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya.”
b.
Tingkat kedua, ialah bergaul lebih tinggi daripada bergaul yang
tingkat pertama. Bergaul yang baik dengan orang lain menurut tingkat kedua ini
kita bergaul tidak secara pasif lagi tetapi secara aktif, dengan kita berbuat
dan bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak sekedar hanya “tidak mengganggu
orang lain.” Tetapi lebih dari itu kita sudah memberikan sesuatu yang
bermanfaat kepada orang lain. Cara bergaul ini terkandung dalam sabda Rasul: “Makhluk
itu sesungguhnya adalah keluarga Allah. Diantara mereka itu yang paling dicintai
oleh Allah ialah yang paling bermanfaat kepada keluarga Allah.” Lebih jauh
Rasulullah meneranngkan: “Tahukah kamu, yang menjadi hak tetangga? Bila
tetangga minta tolong, tolonglah ia. Bila ia ingin berhutang kepadamu,
hutangilah ia. Bila ia memerlukan sesuatu, berikan sesuatu kepadanya. Bila ia
jatuh sakit, jenguklah ia. Bila ia meninggal dunia, antarkanlah jenazahnya.
Bila memperoleh sesuatu yang menggembirakan, ucapkanlah selamat. Bila ia
mendapatkan suatu musibah, tujukkanlah rasa simpatimu kepadanya. Janganlah
kamu mendirikan mendirikan bangunan yang tinggi yang menutupi udara tetangga
itu, kecuali kalau sudah mendapat izin. Bila kamu membeli buah-buahan hadiahkan
sebagian kepadanya, bila tidak masukkanlah ke rumah pelan-pelan dan jangan
sampai anak-anakmu membawa keluar buah-buahan itu supaya tidak membikin jengkel
anak tetanggamu. Janganlah kamu sakiti hati tetangga dengan bau masakan di
dapur, kecuali kalau kamu berikan sebagian kepadanya. Tahukah kamu, apa yang
menjadi hak tetangga? Demi Dzat yang menguasai jiwaku tidak akan bisa menyadari
hak tetangga kecuali orang yang dirahmati oleh Allah.”
c.
Cara bergaul yang ketiga ini adalah cara bergaul yang terbaik dan
yang tertinggi. Boleh dikatakan yang ketiga inilah yang banyak dikerjakan oleh
para Nabi dan orang-orang mukmin yang telah tinggi tingkatan kemukminannya.
Menurut cara bergaul yang ketiga ini kita tidak hanya sekedar “tidak mengganggu
orang lain dan tidak hanya dapat memberi manfaat kepada orang lain” seperti
cara bergaul pada tingkat pertama dan kedua, melainkan lebih dari pada itu kita
sudah berbuat ketingkat yang lebih sempurna lagi, yaitu kita menahan diri
dengan sabar terhadap tindakan orang lain yang menyakiti kita, bahkan kita
balas perbuatan mereka dengan kebaikan. Sabda Rasulullah : “Jika kamu ingin
melebihi tingkat mereka yang terolong shiddiqun (orang-orang yang benar)
sambunglah hubungan persahabatan dengan mereka yang memutuskan persaudaraan
itu, berilah mereka yang menahan pemberian dan maafkanlah mereka yang berbuat
dzalim kepadamu”.
Memang sebagian
orang kurang begitu memperhatikan pergaulannya dengan orang lain dan tidak
ambil peduli terhadap masyarakat sekitarnya. Bersikap masa bodoh dengan tidak
bergaul dengan orang lain, bahkan tingkah lakunya menunjukkan sifat angkuh dan
sombong, terutama kepada orang-orang yang tingkatannya yang lebih rendah soal
duniawi. Tidak ada keramahan, tidak ada kedermawanan, tidak ada sikap tawadhu.
Semua bentuk tingkah laku yang sifatnya asosial, tentu sangat keliru dan tidak
bijaksana. Sampai andaikata yang bertingkah laku yang demikian orang Islam yang
banyak ibadahnnya kepada Allah dan mengerjakan amal seperti Sholat, Puasa, dan
lain sebagainya, juga tidak dapat dibenarkan dan semua ibadahnya yang banyak
itu mungkin akan menjadi suatu yang percuma.
Ada seorang
laki-laki bertanya kepada Nabi : “Ya Rasulullah si Fulan seseorang yang banyak
mengerjakan Shalat, Puasa, Sedekah akan tetapi dia selalu menyakiti hati
tetangganya dengan mulutnya, bagaimana dengan si Fulan yang demikian ini?.
Beliau menjawab “dia masuk Neraka”. Hadist ini menunjukan kapada kita
bahwa tidak dibenarkan orang yang banyak ibadah tetapi sikapnya asosial kepada
masyarakat sekitar, sanksi kepada orang yang demikian adalah Neraka. Dan tentunya
lebih tidak dibenarkan lagi, jika ibadahpun tidak dikerjakan, ditambah lagi
sikap hidupnya juga asosial kepada masyarakat sekitar.
Alangkah
bijaksana kalau kita semua mampu menjadikan diri kita sebagai hamba Allah yang
taat dan banyak beribadah kepadanya, tetapi selain itu sekaligus juga kita mampu menjadikan diri kita sebagai
makhluk sosial yang baik atau masyarakat yang baik karena demikianlah agama
kita agama Islam.
Jadi, kita
adalah orang Islam yang mempunyai banyak sahabat dan pandai membawakan diri di
tengah-tengah masyarakat, Rasulullah bersabda : “Siapa yang ingin umur
panjang dan mendapatkan rizki yang lapang hendaklah ia bertakwa kepada Allah
dan hendaklah ia mengadakan silaturrahmi.”
Wallahu A’lam
Bish-showaab.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Menjadi Manusia Yang Baik
Ditulis oleh Enggo
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://ranggacahyadinata.blogspot.com/2012/08/menjadi-manusia-yang-baik.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Enggo
Rating Blog 5 dari 5





0 komentar:
Posting Komentar
Jangan Lupa Komentar ya?